Inyiak Baliau (Buya Lubuak Landua) Bagian 4
Bagian 4: Masa Muda, Ilmu Tasawuf, dan Ikan Larangan
Muhammad Basyir tumbuh menjadi pemuda yang tenang, tekun, dan sangat menjaga adab. Sejak usia remaja, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di surau daripada di tempat keramaian. Ia rajin berzikir, membaca Al-Qur’an, serta membantu ayah dan kakeknya membimbing masyarakat dalam urusan agama.
Melihat kecerdasan dan kesungguhannya, keluarga dan para alim ulama sepakat mendorong Muhammad Basyir untuk memperdalam ilmu agama ke luar kampung. Maka, pada usia muda, ia berangkat menuntut ilmu ke Kumpulan, sebuah pusat pendidikan Islam yang terkenal pada masa itu.
Di Kumpulan, Muhammad Basyir berguru kepada Syekh Ibrahim Maulana, seorang ulama besar dalam bidang tasawuf dan Tarekat Naqsyabandiyah. Ketekunan, kesabaran, dan adabnya yang tinggi membuat gurunya menaruh kepercayaan besar kepadanya. Ia tidak hanya belajar ilmu lahir, tetapi juga ilmu batin: membersihkan hati, menguatkan niat, dan mendekatkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.
Setelah beberapa tahun menimba ilmu, Syekh Ibrahim memberi izin kepada Muhammad Basyir untuk kembali ke kampung halamannya dan mengamalkan ilmu yang telah diperoleh.
Sekembalinya ke Lubuak Landua, masyarakat menyambutnya dengan penuh hormat. Sejak saat itu, Muhammad Basyir mulai dikenal dengan sebutan Inyiak Baliau, sebuah gelar kehormatan bagi orang alim yang dihormati karena ilmu dan akhlaknya.
Salah satu peristiwa yang paling dikenang masyarakat adalah kisah ikan larangan di Batang Buluan. Di tepi sungai tersebut, Inyiak Baliau bersama murid-muridnya sering bermeditasi, berzikir, dan beristirahat setelah mengaji. Atas izin Allah, ikan-ikan di sungai itu tidak pernah ditangkap sembarangan dan dianggap sebagai ikan larangan.
Konon, siapa pun yang melanggar larangan tersebut akan mendapat teguran alam. Kisah ini bukan semata tentang keajaiban, tetapi tentang ajaran Inyiak Baliau untuk menjaga keseimbangan alam, menghormati ciptaan Allah, dan menahan hawa nafsu.
Sejak itu, Batang Buluan menjadi tempat yang dihormati. Masyarakat belajar bahwa agama tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan manusia dengan alam dan sesama.
Bersambung ke Bagian 5 – Perjalanan ke Mekkah dan Warisan Inyiak Baliau
Komentar
Posting Komentar